14-Terror Pembantu Baru Sharon

 sampul Sharon depan copy

Untuk pekarangannya, Sharon dan Donny mempekerjakan seorang tukang kebun bernama Wawan. Berbadan tini besar denan bobot 95 k dan tingi 180 cm, membuatnya mudah ditandai bila ia berjalan bersanma bantak orang.Menurut warga sekitar, mereka menyebut Wawan adalah seorang idiot, yang secara mental kurang cerdas.

Istilah idiot sebenarnya sudah tidak dipakai di dunia medis untuk menyebut anak-anak yang memiliki kelambanan menangkap respons baik secara motorik, kognitif, sosial dan bahasa. Apa yang menjadi penyebab keterbelakangan mental atau retardasi mental itu?

Meski intelligence quotient (IQ) bukan satu-satunya cara untuk mengukur anak ‘idiot’ tapi kebanyakan anak dengan kondisi itu memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal.

Standar IQ yang normal menurut skala Stanford-Binet adalah di kisaran 85-115. Hanya 1 persen saja populasi di dunia yang memiliki tingkat IQ di atas 135. Separuh (50%) populasi di dunia memiliki IQ rata-rata di kisaran 90-110, sebesar 25% memiliki IQ di atas rata-rata itu dan 25% populasi di dunia memiliki IQ di bawahnya.

Orang yang ber-IQ rendah di bawah 70 dan sulit berkomunikasi dengan orang lain yang biasanya disebut ‘idiot’ atau keterbelakangan mental. Orang-orang seperti ini memiliki kepribadian yang unik namun dalam kehidupan sosial sering menjadi olok-olokan di masyarakat.

Seperti dilansir dari keepkidshealthy, Selasa (16/3/2010), ‘idiot’ diklasifikasikan menurut besarnya IQ, yaitu:

1. Ringan

Nilai IQ antara 55-69. Sekitar 85 persen anak ‘idiot’ berada di kisaran ini, dan tergolong yang berpendidikan. Anak-anak tersebut dapat belajar membaca dan menulis hingga kelas 4 atau 5. Mereka relatif hidup mandiri dan bisa bekerja dengan pelatihan khusus.

2. Sedang

Nilai IQ antara 40-54. Sekitar 10 persen anak ‘idiot’ masuk klasifikasi ini, juga tergolong yang dapat dilatih. Anak-anak ini mungkin memiliki potensi akademik di TK atau kelas 1. Memiliki kemampuan terbatas untuk membaca dan biasanya membutuhkandukungan dan pengawasan sehari-hari dalam kegiatan hidup, dan bisa bekerja dengan pelatihan khusus.

3. Parah

Nilai IQ antara 25-39. Sekitar 5 persen anak ‘idiot’ masuk klasifikasi ini. Anak-anak dengan tingkat ini tampaknya tidak akan mampu belajar membaca dan menulis, tetapi mungkin bisa ke toilet sendiri dengan dilatih dan berpakaian dengan dibantu. Mereka biasanya membutuhkan pengawasan dan dukungan total untuk kegiatan kehidupan sehari-hari.

4. Mendalam

Nilai IQ di bawah 24, dan kurang dari 1 persen anak ‘idiot’ yang berada di klasifikasi ini.  Namun sebuah sistem klasifikasi lebih baru dikembangkan pada tahun 1992 yang tidak didasarkan pada nilai IQ. Pengelompokkan anak keterbelakangan mental didasarkan pada jumlah dukungan dan pengawasan terhadap kebutuhan individu yaitu intermittent, limited, extensive dan pervasive.

Namun kenyataannya rajinnya bukan kepalang. Walaupun tingkat intelegensianya rendah, namun kepatuhannya untuk mengerjakan hal yang diperintahkan membuat Sharon dan Donny menjatuhkan pilihan mereka padanya. Di tangan Wawan, pekarangan rumah ini menjadi tertata rapi dan indah dipandang mata.

Setelah Wawan bekerja lebih dari 3 minggu, masih ada satu yang belum terpecahkan yaitu masalah pembantu rumah tangga. Sangat sulit mencari pembantu disini, karena mereka lebih memilih untuk menjadi pembantu di luar negeri sebagai TKI.

Tenaga Kerja Indonesia (disingkat TKI) adalah sebutan bagi warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri (seperti Malaysia, Timur Tengah, Taiwan, Australia dan Amerika Serikat) dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. Namun demikian, istilah TKI seringkali dikonotasikan dengan pekerja kasar. TKI perempuan seringkali disebut Tenaga Kerja Wanita (TKW).

TKI sering disebut sebagai pahlawan devisa karena dalam setahun bisa menghasilkan devisa 60 trilyun rupiah (2006), tetapi dalam kenyataannya, TKI menjadi ajang pungli bagi para pejabat dan agen terkait. Bahkan di Bandara Soekarno-Hatta, mereka disediakan terminal tersendiri (terminal III) yang terpisah dari terminal penumpang umum. Pemisahan ini beralasan untuk melindungi TKI tetapi juga menyuburkan pungli, termasuk pungutan liar yang resmi seperti punutan Rp.25.000,- berdasarkan Surat Menakertrans No 437.HK.33.2003, bagi TKI yang pulang melalui Terminal III wajib membayar uang jasa pelayanan Rp25.000. (saat ini pungutan ini sudah dilarang)

Pada 9 Maret 2007 kegiatan operasional di bidang Penempatan dan Perlindungan TKI di luar negeri dialihkan menjadi tanggung jawab BNP2TKI. Sebelumnya seluruh kegiatan operasional di bidang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri dilaksanakan oleh Ditjen Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (PPTKLN) Depnakertrans.

Terlepas dari banyaknya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mendapat siksaan dinilai karena ketidaksiapan mereka untuk memahami aturan dan kebijakan di luar negeri. Warga setempat masih berbondong-bondong mendaftar sebagai TKI untuk mendapatkan imbalan yang layak menurut mereka. Bahkan diakui Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bahwa selama ini pemahaman kurang diberikan kepada para TKI, khususnya yang akan berangkat ke luar negeri. Dan Pemerintah sendiri, telah menganjurkan WNI bekerja dan mencari nafkah di dalam negeri. Mengingat beberapa kejadian yang menimpa para TKI merupakan pelajaran yang sangat berharga.

“Bagaimana kita akan mendapatkan pembantu yang qualified untuk menjaga anak kita jika semua yang bersertifikat teah pergi semua menjadi TKW ke luar negeri?”, tanya Sharon kepada suaminya pada suatu sore.

“Coba kita masukkan ke iklan surat kabar saja”  , saran Donny

“Iya, kenapa tidak terpikir olehku?”kata Sharon.

Sharon kemudian menghubungi Yuli yang bekerja di biro iklan dan tidak sampai seminggu ada pelamar yang datang. Wanita dengan paras cantik sebaya Sharon datang melamar.

“Namamu siapa”.,tanya Sharon kepada wanita itu

“Suhartati Nyonya”

“Umur?”

“26 tahun, nyonya”

“Sudah bersuami?”

“Sudah meninggal, nyonya”

“Bisa merawat bayi?”

“Bisa, nyonya”.

“Bisa masak?

“Bisa, nyonya”.

Dilihat dari parasnya yang cantik dan kulitnya yang putih bersih, Sharon meragukan kalau dia bisa bekerja sebagai pembantu. Tetapi karena kebutuhan untuk menemani si kecil jika ditinggal bekerja, Sharon harus menerimanya.

Akhirnya Suharti diterima bekerja untuk merawat bayinya.

“OK, dengan gaji segitu bisakah kamu menerima pekerjaan ini?”

“Bisa, nyonya”.

Setelah banyak hal yang ditanyakan, akhirnya Sharon memutuskan untuk menerima pembantu barunya………..

“Baiklah, kamu diterima, ayo ku tunjukkan kamarmu”.

Mereka berdua berjalan kekamar kecil di sebelah kamar bayi. Suhartati membawa tas jinjing yang penuh dengan pakaiannya untuk diletakkan di kamar yang diperuntukkan baginya itu. Dari caranya menggendong bayi, terlihat ia sayang kepada bayinya itu. Sharon sangat lega karena semua pekerjaan untuk merawat bayinya sudah bisa tertangani dengan adanya pembantu ini.

Setelah pakaiannya tertata rapi di lemari, Suhartati berganti pakaian.

“Pakaianmu memang sehari-harinya seperti ini?”tanya Sharon demi melihat pakaian yang dikenakan pembantu barunya itu. Yang dipakai pembantu itu sangatlah mencolok, setelan sebuah kemeja kotak2 dengan celana pendek hotpant ungu sehingga menunjukkan kedua pahanya yang bagus untuk terlihat oleh siapapun.

“Iya nyonya, saya suka pakaian lelaki karena memudahkan saya untuk bergerak”.

Sharon menelpon suaminya tentang kabar gembira ini. Ketika Donny pulang, ia disambut dengan ciuman mesra oleh isterinya di pintu depan. Kemudian mereka berdua duduk di sofa di ruang keluarga. Sharon duduk disebelah kiri dengan menyandarkan kepalanya di bahu Donny, suaminya.

Tidak lama setelah itu, Suhartati masuk membawa nampan berisi dua cangkir th hangat. Ia mengenakan celansa hotpant dan baju lelaki dengan kancing atasnya dibiarkan terbuka, sehingga terlihat belahan buah dadanya sedikit. Suhartati membungkuk untuk meletakkan cangkir-cangkirnya dihadapan Donny. Sekilas tampak oleh Donny buah dada Suhartati yang menggelantung seakan hampir jatuh. Donny memaslingkan mukanya untuk segera mengambil cangkir brisi the hangat itu. Kemudian dia menunduk mengaduk tehnya dengan serius.

Setelah Suhartati kembali dan menghilang dari mereka berdua, Donny membuka pembicaraan :

“Sharon, apakah itu tadi gadis yang kamu terima sebagai pembantu di rumah ini?”

“Iya, namanya Suhartati, kenapa?”

“Sepertinya dia bukan pembantu”.

“Tadinya saya juga berpikiran demikian. Tetapi ternyata dia jago untuk menghentikan Shalsabila, bayi kita yang sedang menangis. ”

“Iya, saya curiga dengan cara berpakaiannya saja”.

“Memang dia cantik dan  suka pakaian lelaki yang mudah untuk membuatnya bergerak”.

“OK, kalau memang alasannya begitu”.

Hari-hari selanjutnya Sharon mulai bekerja kembali karena waktu cuti melahirkan yang 3 bulan sudah habis. Shalsabila ditinggal sendiri bersama pembantunya. Namun karena jarak kantornya cukup dekat dari rumahnya, ia sering pulang untuk menjenguk anaknya atau menyusuinya., dan kembali keantor bila menyusui Shalsabila sudah selesai dilakukan.

Sudah lebih dari 4 minggu Sharon dan Donny meninggalkan Shalsabila, bayinya dirumah bersama Suhartati, pembantunya tanpa ada kejadian yang mengkhawatirkan Suatu pagi ketika Donny dan Sharon sudah pergi Suhartati menemui Shalsabila, bayi yang sedang menangis. Cepat-cepat ia menggendong bayi itu dan duduk di jung dipan yang berhadapan dengan jendela di lantai dua. Ia mengeluarkan putting payu daranya dan menyusui Salshabila. Jika tidak meninggal dini, bayiSuhtati sudah sebesar Shalsabila. Bayi itu diam, sungguh menikmati air susu dari Suhartati. Suhartati kembali teringat akan bayinya yang meninggal saat dilahirkan akibat stress dan tekanan yang berkepanjangan memikirkan suaminya dr. Wiryono yang meninggal akibat tekanan masyarakat yang dikira dipimpin Sharon

Kemudian tiap jam 11 pagi, kira-kira satu jam sebelum Sharon pulang untuk menyusui Shalshabila, Suhartati sudah menyusuinya. Selain menghilangkan sakit di payudaranya.dia kuga merasa sangat nyaman dan hatinya menyatu dengan bayi itu. Hal ini dilakukan berhari-hari.Sampai suatu hari ketika Sharon pulang untuk menyusui, bayinya menolak untuk menyusu darinya. Sharon melihat susu kalengnya masih banyak dan airpanas yang disediakan di thermos juga masih banyak. Sharon menjadi cemas dan disampaikanlah hal itu ke Donny suaminya pada suatu malam.

“Sebaiknya kita tanyakan ke dokter saja, kenapa Shalsabila menolak menyusumu”, kata Donny

“OK, coba kita ke dokter Anita , hari sabtu nanti”, kata Sharon

Suatu hari seperti biasa jam 11 pagi, kira-kira satu jam sebelum Sharon pulang untuk menyusui Shalshabila, Suhartati sudah menyusuinya. Tanpa sadar ternyata Wawan sudah memperhatikannya sejak beberapa hari. Ia berdiri di tangga tepat dijendela. Suhartati dengan cepat menghampiri Wawan yang lagi brdiri pada sebuah tangga didepan jendela

Kamu ti ti titidak boleh me nyu-sui a-nak nyo nya” kata Waan yang idiot dengan suaranya terbata-bata

“Awas kalau kamu bilang-bilang sama nyonya dan tuan”Suhartati mengancam dan mendorong tangga itu hingga tangga itu  terjatuh.

“Aaaaaaaagh”, Wawan terjatuh, tanpa ada yang menolong. Wawan bersusah payah untuk bangkit. Dari jendela kamar atas Suhartati tertawa puas melihat Wawan sempoyongan berusaha bangkit.

“Ha ha ha, rasain kamu macam-macam sama aku…!!”

Pada hari sabtu yang ditentukan, Donny dan Sharon mengunjungi ruang praktek doter Anita Sp.OG.

Iya dok, kami ngin tahu, kenapa bayi saya tidak mau menyusu saya sejak saya kembali bekerja ke kantor” tanya Sharon. Dokter Anita secara detil menjelaskan kepada Sharon.

“Menyusu adalah kebutuhan bayi yang sangat penting karena menyusu bayi kita bisa tumbuh dengan sehat apa lagi mendapatkan air susu ibunya/ASI

Mengasuh anak bayi seharusnya mendapat air susu ibu dengan cukup, namun ada kalanya bayi menolak ASI yang diberikan untuknya. Adapun bila bayi tidak mau menyusu ASI kemungkinan disebabkan oleh hal-hal berikut :

1]Kondisi tubuh bayi yang kurang sehat bisa membuat bayi kesulitan mengisap dengan baik, sehingga ASI yang didapat sedikit. Akhirnya bayi jadi capek atau frustrasi, dan menolak menyusu.

2].Bayi yang mengalami memar akibat lahir dengan alat bantu (misalnya: vakum) mungkin menolak menyusu jika bagian yang memar ini terpencet tiap kali ia menyusu.

3].Bayi yang hidungnya tersumbat (karena pilek) mungkin menolak menyusu karena kesulitan bernafas.

4]. Bayi yang sedang sariawan, atau mulutnya terinfeksi jamur Candida mungkin hanya mau mengisap beberapa kali saat menyusu, lalu berhenti dan menangis.

5]Bayi yang sedang tumbuh gigi mungkin merasa gusinya nyeri, atau air liurnya berlebihan, atau agak demam, sehingga menolak menyusu karena merasa tidak nyaman.

6]. Bayi yang terpengaruh efek sedatif (bius) obat-obatan mungkin menolak menyusui karena mengantuk.

7].bingung putting. Bayi yang diberi susu botol atau empeng terlalu dini (sebelum 2 minggu) mungkin menolak menyusu karena kesulitan menguasai teknik mengisap payudara – yang sangat berbeda dengan mengisap dot.

8].  Tidak mampu ‘mengambil’ cukup ASI untuk memenuhi kebutuhannya. Bayi yang belum menguasai teknik menyusu mungkin hanya mampu mengisap ASI sedikit sehingga harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengisap lebih lama atau lebih dalam. Akibatnya ia jadi capek atau frustasi, lalu menolak menyusu.

9]. Ingin ‘melawan’ perlakuan yang tidak menyenangkan. Jika ibu atau pengasuh kurang menguasai teknik mengatur posisi bayi saat akan menyusu, bayi bisa saja merasa diperlakukan kasar atau disakiti. Sebagai upaya `perlawanan’ , ia pun menolak menyusu.

10]. Terganggu isapannya. Jika ibu sering memegangi atau mengguncang payudara saat menyusui, posisi mulut bayi terhadap payudara bisa terganggu. Akibatnya bayi merasa tidak nyaman dan menolak menyusu.

11]. Dibatasi jadwal menyusunya. Jika ibu menyusui hanya pada jam-jam tertentu dan bukan menurut keinginan bayi, bayi bisa frustrasi karena kelaparan dan malah menolak menyusu.

12]. Terganggu semburan ASI. Aliran ASI yang terlalu cepat dan deras saat bayi mulai mengisap bisa membuat bayi tersedak. Jika terjadi berulang kali selama menyusu, bayi mungkin jadi frustrasi dan menolak menyusu.

12] Merasa terganggu oleh suatu perubahan.  Bayi usia 3-12 bulan mudah terganggu oleh berbagai perubahan: berpisah dengan ibunya, ada pengasuh baru, pindah rumah, kedatangan tamu, ibunya sakit (atau sedang menstruasi), payudara ibu terinfeksi, bau tubuh ibu berubah, dsb. Ketika suatu perubahan dirasa mengganggu, bayi bisa jadi tidak menangis melainkan langsung ‘mogok’ menyusu.

 

“ Cobalah dicek alasan alasan diatas, mana yang paling sesuai dengan kondisi ibu dan anaknya.”.

Sebaiknya saya catat semua itu karena banyaknya , dok”.kata Sharon

Dokter Anita kembali pelan-pelan mengulangi jawabannya kepada Sharon yang mencatat dengan tekun.

“ Mengenai cara memperlancar produksi ASI. cara utama sebenarnya dengan terus memberinya ASI, karena dengan jarang memberikan ASI maka produksi ASIpun akan menurun, maka jika si BAYI tidak mau menyusui sebaiknya ASI tetap di pompa keluar.”

“ Mengenai makanan banyak ibu ibu mengatakan memakan daun katuk atau buah pepaya muda yang direbut akan meningkatkan ASI, dan tentu harus ditambah dengan makanan bergizi lainnya. Sementara untuk obat-obat modern, bisa menghubungi dokter kandungan untuk meminta resep penambah ASI.”.

Dari 12 point yang dicatatnya, tidak satupun tanda-tanda yang bisa ditemukan oleh Sharon.

“”Dokter, dari ke 12 tanda-tanda ya.ng saya catat ini, tidak satupun mengarah pada bayi saya”, kata Sharon

“Berarti ada hal lain diluar itu”, kata dokter Anita.

“Apakah kira-kira hal lain itu, dok?”, tanya Sharon

“Coba dilihat kebiasaan menyusunya”, kata dokter Anita.

“Kebiasaan menyusui?”, tanya Sharon

“Iya, kebiasaan sehari-harinya bagaimana dia menyusu?”, kata dokter Anita.

“Biasanya pagi-pagi setelah mandi, saya menyusui, kemudian saya tinggal bekerja ke kantor.”,kata Sharon

“Waktu anda tinggal ke kantor, bagaimana menyusunya?”, kata dokter Anita.

“Saya meninggalkan susu bubuk dan air panas untuk diaduk oleh pembantu”, kata Sharon.

“Apakah anda yakin dia minum susu kaleng itu”, tanya dokter Anita.

“Memang saya tidak tahu, tapi saya percaya….”, kata Sharon, “Dan jika dilihat dari timbangan badannya, selalu naik”

“Betul, memang jika dilihat dari fisiknya sehat sekali anak ibu ini. Mungkin dia mendapat asupan makanan lainnya selama ibu tdak berada di rumah.” kata dokter Anita.”Ok jika demikian harus anda tanyakan dan anda lihat apakah dia  minum susu bubuk itu”,

“Baik, nanti sepulang kerumah saya tanyakan?”, tanya Sharon

Sharon dan Donny kembali ke rumah setelah menerima banyak pengetahuan dari dokter Anita. Tidak sabar menunda hingga esok hari, di ruang tamu Donny dan Sharon menanyai Suhartati tentang kebiasaan menyusu Salshabila ketika ditinggal oleh mereka.

“Kebiasaan menyusu ?, ya saya lakukan seperti perintah nyonya”,kata Suhartati

“Coba ambil kaleng susunya!”, perintah Donny

Suhartati mengambil kaleng susu, dan kembali ke ruang tamu memberikan kaleng itu ke Sharon dan Donny.

Ini, kaleng susunya, ada apa sih?”, kata Suhartati sambil mengulurkan kaleng susu.

Gak ada apa-apa, nanti Shalsabila tidur di kamar bersamaku. Sekarang tolong diambil box shalsabila dan pindahkan ke kamar saya”, kata Sharon

Suhartati mengambil box Shalsabila dan membawanya ke ruanmg tidur Donny dan Sharon. Malam itu Sharon dan Donny membawa Shalsabila ke kamarnya dan diletakkan di dalam box temmpat tidur bayinya.

Sekitar jam 01:15 terdengar suara tangis bayi. Donny segera bangun dan menenangkan bayinya. Tetapi bayi itu masih terus menangis dan meronta. Tangisan itu makin lama makin keras. Sharon terbangun dan mengambil Shalsabila dari tangan Donny. Ia duduk di pinggir tempat tidur dan mengeluarkan payudara sebelah kirinya, kemudian menyusui Shalsabila yang menangis. Mula-mula Shalsabila mau mengisap putting susu ibunya, namun hanya sekitar 5 detik dilepasnya dan ia meronta dan menangis lebih keras.

Donny yang merasa kasihan kepada bayi dan isterinya, bderinisiatif membangunkan Suhartati, pembantunya. Sharon tidak putus asa, ia memasukkan putting susu sebelah kiri dan mengeluarksan payudara sebelah kanannya. Setelah putting susu sebelah kanannya dibersihkan dengan kassa dan air hangat, diberikanlah ke mulut bayinya.

Sama seperti putting susu sebelah kirinya, yang sebelah kananpun hanya  menempel di mulut bayinya sebentar dan dikeluarkan lagi. Bahkan lebih singkat, hanya 2 detik bayinya mau mengisapnya. Sharon gugup,panik dan bingung kemudian keluar kamar sambil menggendong bayinya. Pada saat yang sama Donny berjalan ke kamarnya diikuti Suhartati.

“Sini nyonya saya tenangkan”,kata Suhartati.”Sini sayang, kenapa nangis, ayo gendong ibu….”, kata Suhartati sambil mengambil Shalsabila yang masih menangis dari gendongan Sharon.

“GENDONG  IBU!!?”, teriak Donny dan Sharon hampir bersamaan

Iya, supaya tenang saja nyonya”,jawab Suhartati.

Suhartati membawa Shalsa ke kamar bayi dan tidak lama kemudian tangis bayi itupun lenyap. Ia tenang dan tertidur lagi dalam gendongan Suhartati.

Mendengar bayinya berhenti dari menangisnya,Sharon dan Donny pun saling berpandangan. Dan ntanpa komando, mereka berdua berjalan ke arah kamar bayinya. Sharon memegang handle pintu, namun tidak bisa dibuka. Pintu dalam keadaan DIKUNCI dari dalam.

Akhirnya mereka berdua kembali ke kamarnya melanjutkan tidurnya. Jam dinding sudah menunjukkan angka jam 03:00 pagi. Ayam-ayam disekitarnyapun udah mulai berkokok. Sharon dan Donny pun tertidur pulas setelah mengalami malam yang menakutkan.

Pagi hari Sharon menelpon untuk menceritakan kejadian ini kepada Yuli temannya. Ia putar nomor handphone yang ada di catatannya.

“Selamat pagi, apa khabar Yuli?”.

“Baik, kamu sendiri bagaimana kabarmu?”

“Baik, eh kamu masih kerja di biro iklan yang dulu itu?”

“Tidak lagi. Saya sekarang bekerja sebagai agen properti. Apakah kamu au mencari rumah baru?”

“Ooh, tidak hanya pingin ngobrol saja”

“OK, mau ngobrol apa?”

“Kamu ingat bayiku, gak?”tanya Sharon

Iya ingat dong,sudah  bisa apa dia sekarang, tidak sakit kan?”, pertanyaan Yuli kawannya bertubi-tubi epada Sharon

“Tidak, tapi akhir-akhir ini dia tidak mau menyusu denganku”.

“Halo tunggu ada telepon masuk nih”, potong Yuli

Pembicaraan terpotong karena di tempat Yuli bekerja sedang menerima telephone dari kliennya. Setelah selesai bicara dengan kliennya itu ia meneruskan kembali pembicaraan dengan Sharon

Halo Sharon, sampai mana tadi?, maaf ya, sekarang ada tamu. Bagaimana jika saya main ke rumahmu saja besuk”, kata Yuli

“OK, besuk saya tunggu jam 09:00 pagi ya”., kata Sharon

“Baik jam 09:00 tepat”

Esok harinya tepat jam 09:00, Yuli sudah berada di rumah Sharon. Mengenakan jas hitam dengan bahan : Haitwis berwarna Abu-abu gelap, dengan Kerah Blazer bukaan depan memakai pita organdi, dibagian depan ada bis isi, membuat Yuli terlihat anggun sebagai eksekutif muda di tuang tamu..

Tidak lama kemudian Suhartati keluar dengan nampan berisi dua cangkir kopi. Yuli memperhatikan baju mahal yang dikenakan pembantu itu. Walaupun sudah agak lusuh namun dia mengenal baju atasnya bertuliskan merk Zara, Sedang celana pendek yang dipaksainya dari Guess.

Rasa penasaran ini ditanyakan kepada Sharon.

“Eh, Sharon. Apakah baju-bajumu kamu berikan ke pembantumu?”

“Oh, tidak. Itu baju dia sendiri”

“Betul dia pembantumu?”

“Betul, kenapa sih”

“Dia terlalu cantik dan seksi untuk jadi pembantu”.

“Iya, saya tahu dia cantik dan seksi, terus kenapa. Selama dia bekerja dengan baik sih so what gitu lho”.

“Hati-hati suamimu nanti nempel sama dia”

“Ha ha saya percaya sama Donny, tidak mungkin begitu”

“Satu lagi, dia memakai baju-baju nmahal. Coba pikirapakah gaji pembantumu mampu untuk membeli baju dari Zara dan celana dari Guess?”.

“Aah, aku tidak memperhatikan itu”

“”Lihat kulitnya yang putrih dan bersih itu, apakah kamu tidak curiga?”

“Sudahlah……”

“Ok, mana bayimu, ?, aku ingin melihatnya”

“Ada dikamarnya sedang tidur. Ayo naik keatas, ke kamar bayiku”, ajak Sharon

Mereka berdua berjalan menaiki tangga menuju ke amar bayi. Pintun a terbuka sedikit dan jendelanya juga terbuka sehingga angin berhembus dan memutar mainan bayi yang digantung diatas. Klinting…klinting…klinting, mainan bayi dari aluminium itu berputar terhembus angin dan bertabrakan satu sama\lain sehingga mengeluarkan bunyi-bunyian. Rasanya Sharon belum pernah membeli mainan bayi ini.

“Bayimu sehat dan montok ya…”, Yuli membuka pembicaraan.

“Iya, tapi akhir-akhir ini dia selalu menolak air susuku”

“Kamu pinter memilih mainan untuk bayimu. Membeli dimana kamu?”

“Saya tidak membelinya, entah siapa yang membelinya”, kata Sharon coba saya tanyakan ke pembantuku, siapa tahu dia mengetahuinya. Sharon memanggil pembantunya untuk datang ke kamar bayi.

Tatik, apakah kamu yang memasang mainan bayi ini?”

“Iya nyonya, tempo hari ketika ke pasar saya melihatnya dijual di tukang loak, lalu saya beli dan saya pasang. Sepertinya  den Shalsabila menyukainya. Apakah saya bersalah karena membelinya dari tukang loak, nyonya?”,kata Suhartati menjelaskan

Ooh, tidak. Saya merasa tidak pernah membelinya saja, OK, cukup kembali ke dapur saja sana”.

“Terimakasih, maafkan saya nyonya jika dianggap memalukan nyonya”

Oh tidak apa-apa kok, saya yang mestinya terima kasih karena kamu telah berkorban untuk bayiku”.

Suhartati keluar fdari kamar itu, menyusuri tangga ke bawah menuju dapur. Di ruang bayi, Yuli memperhatikan Suhartati sudah menghilang dari hadapan Yuli dan Sharon. Dia menggamit tangan Sharon dan berbisik

Ini barang mahal lho, saya pernah melihatnya di Hongkong, dan…..”Yuli menghentikan kata-katanya mengingat sesuatu

“Dan apa..?”, tanya Sharon.berbisik pula

Dan saya pernah melihat mainan ini tergantung pada foto rumah yang ada di kantor saya.. Coba nanti saya lihat rumah siapa itu”, kata Yuli berbisik

“OK, nanti kita saling telephone lagi ya…” , kata Sharon

Mereka kembali ke ruang tamu dan sudah ada 2 gelas minuman sirup lainnya.

Pembantumu berkelas, ya. Mengerti apa yang diharapkan tamu”

“Iya, dan dia juga pandai mengasuh bayi. Makanya saya suka sekali sama dia”

“Ok, saya harus ke kantor, nanti tentang mainan itu saya telephone kamu ya “

“”Baik, terima kasih”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s