10. Sharon William Muqodas-Pelecehan sexual di ruang praktek

 sampul Sharon depan copy

“Nyonya Sharon-Donny, silahkan masuk”, kata perawat yang diluar memanggil.

Sharon berdiri dari tempat duduk dan masuk ke ruang periksa diikuti Donny dari belakang.

“yang mau periksa siapa ini ?” ,tanya dokter

“Isteri saya dok, masak saya periksa kandungan?”, jawab Donny.

“Kalau begitu anda tunggu di luar saja”, kata dokter.

“Saya ingin melihat kondisi isteri saya dan janinnya, dok”, jawan Donny

Iya, anda tunggu diluar, nanti saya akan melaporkan hasilnya, kecuali anda ingin memriksanya sendiri. Silahkan dipakai alat-alat saya, kemudian saya yang keluar”.

“Bukan begitu dok”

“OK, jadi silahkan tunggu diluar”

“Tetapi…, dok”

“Tetap, anda harus tunggu diluar, agar saya bisa bekerja”.

Donny tidak punya kata lain lagi kecualim menuruti dokter itu untuk keluar dan menunggu di ruang tunggu.

Setelah Donny keluar kamar periksa, dokter itu menyuruh Sharon naik ke tempat tidur.

“Silahkan lepas pakaian dalam anda dan naik bu”, kata dokter mempersilahkan

Sharon membuka branya tetapi tetap mengenakan celana dalamnya. Kulitnya yang putih pualam itu membuat dokter ini tidak memalingkan mukanya pada tubuh Sharon saat naik ke tempat tidur periksa.

Sharon merebahkan tubuhnya dan dokter itu mendekati dengan memegang stetoskop di tangan kiri. Kedua tangannya tidak mengenakan sarung tangan karet. Tangan kirinya menempatkan stetoskopnya di dada Sharon, sedangkan tangan kanannya membuka penutup dada Sharon dan berputar-putar mengusap buah dadanya.

Stetoskopnya diangkat dan dia merapatkan telinganya ke dada Sharon. Tangan kanannya masih menmegang buah dada Sharon, sedang tangan kirinya memeriksa perut dsan turun kebawah ke bagian yang dilarang.

“Dokter, jangan begitu…..!!!”, teriak Sharon merasa risih dan dilecehkan

Dokter Wiyono masih saja mengulang perbuatan yang sama. Tangan kanannya masih menmegang buah dada Sharon, sedang tangan kirinya memeriksa perut dsan turun kebawah ke bagian yang dilarang.

“Dokter, jangan begitu…..!!!”, teriak Sharon semakin keras

Masih saja dokter wiyono menahan Tangan kanannya menmegang buah dada Sharon, sedang tangan kirinya memeriksa perut dan turun kebawah berlama-lama ke bagian yang dilarang.

“Dokter, jangan begitu…..!!!”, teriak Sharon semakin keras  dan plak…plak…plak Sharon menampar dokter itu,

Dokter itu marah dan berganti menampar Sharon plak…plak….duk

“Tolooong..tolong…tolong…..”, Sharon berteriak keras sekali sehingga terdengar sampai ruang tunggu.

Donny yang mendengarnya langsung masuk dan menemui Sharon yang tidak mengenakan pakaian.

“Ada apa sayang?”,tanya Donny

“Aku dilecehkan oleh dokter sialan itu”kata Sharon sambil menangis.

“Dokter, perbuatan anda sudah keterlaluan,”kata Donny yang sudah mendengar cerita isterinya minggu sebelumnya, langsung meninju muka dokter Wiyono , SpOG.  Dokter itu tidak bisa menerima perlakuan Donny dan balik meninjunya berkali-kali.

Grubak-grubuk dua orang ini berkelahi dan saling pukul. Sharon yang melihat berteriak minta tolong.

“Satpam…satpaam……., Tolong…tolong…Dokternya berkelahi……”.

Satpam yang diruang tunggu masuk dan bukannya melerai perkelahian itu tetapi malah ikut memukuli dan menendang Donny. Untung ada tukang parkir dan bu Suryo yang masuk dan melerai perkelahian yang tidak imbang itu. Akhirnya Donny dipapah oleh Sharon keluar ruangan dan langsung aik mobil yang diparkir dekat pintu keluar.

Donny tidak pulang ke rumah, namun mobilnya dipacunmenuju ke kantor polisi. Donny dan Sharon membuat laporan Pelecehan seksual terhadap Sharon, dan Penganiayaan terhadap Donny.

Dengan luka yang masih segar, polisi sebagai penyidik meminta Visum et Repertum sesuai dengan pasal 133 ayat (1) KUHAP. Karena Pada prinsipnya setiap dokter mampu membuat Visum et Repertum sesuai dengan pendidikan yang diperoleh pada waktu melakukan Kepaniteraan di bagian Ilmu kedokteran Forensik Fakultas kedokteran, maka Donnybdan Sharon pergi ke rumah sakit umum untuk minta dilakukan visum atas dirinya berdasarkan surat dari polisi.

Bagi Donny mudah untuk mendapatkan visum karena ada bukti yang bisa dilihat. Namun bagi Sharon belum ada bukti yang bisa dilihat secara langsung. Jadi dia minta didampingi oleh psikolog untuk membuat visumnya. Meskipun dalam visum sering disebutkan organ kelamin korban mengalami luka atau trauma akibat benda tumpul. Psikolog itu  mengatakan dalam kasus pelecehan seksual, kebanyakan korban tidak pernah berbohong.

Selesai mendapatkan visum itu, mereka kembali ke kantor polisi untuk menuntut dokter Wiyono dihukum seberat-beratnya.Laporan ini ditanggapi polisi dengan baik, dan media cetak terus memuatnya dalam beberapa kali tulisan hingga sebulan lamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s